Sabtu, 10 September 2016

Sebuah Karakter Bagi Mahasiswa



KARYA ILMIAH
“SEBUAH KARAKTER BAGI MAHASISWA”




 













DISUSUN OLEH :

PUTRI AGUSTINI
NIM. 155211057
KELAS 1B






PROGRAM STUDI D-3 ADMINISTRASI BISNIS
JURUSAN ADMINISTRASI NIAGA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
ANGKATAN 2015-2016


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG


                                Mahasiswa merupakan sebutan bagi orang yang sedang menempuh pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi yang terdiri atas sekolah tinggi,akademi,dan yang paling umum adalah universitas ( Wikipedia ). Mahasiswa senantiasa selalu bisa membuat perubahan yang signifikan bagi sebuah negara. Contohnya pada tahun 1998 mahasiswa bahkan mampu menggulingkan seorang Presiden yakni Presiden Soeharto.
                        Namun, di zaman sekarang ini mahasiswa lebih banyak menimbulkan kasus yang kurang mencerminkan seorang pemuda yang terpelajar. Banyak sekali media massa yang memberitakan mengenai atraksi demo mahasiswa yang anarkis dengan mengatasnamakan keadilan dan kesejahteraan bangsa. Di samping itu pula terdapat Mahasiswa yang bersifat pasif pada hal yang berbau pemerintahan, mereka lebih senang menghabiskan waktu mereka dengan kegiatan klub ( UKM ) di dalam kampus tanpa mementingkan kewajiban mereka sebagai seorang mahasiswa yakni belajar secara akademik maupun berorganisasi. Dalam keadaaan kedua karakter Mahasiswa inilah Mahasiswa akan memiliki karakter yang anarkis maupun menjadi malas.
                        Masalah inilah yang memicu penulis untuk menulis masalah-masalah ini. Makalah yang berjudul “Sebuah karakter bagi Mahasiswa” yang diharapkan dapat menjadi bahan rujukan dan masukan bagi pembaca khususnya bagi mahasiswa Indonesia yang ingin mengetahui arti penting sebuah karakter bagi mahasiswa.

1.2.RUMUSAN MASALAH

               
1.      Apa pengertian Mahasiswa?
2.      Apa pengertian Karakter?
3.      Apa pentingnya hubungan Karakter dengan Mahasiswa?
4.      Apa solusi yang tepat untuk memperbaiki Karakter Mahasiswa?


1.3.TUJUAN PENULISAN


·         Agar dapat mengetahui pengertian mahasiswa.
·         Agar dapat mengetahui pengertian dari karakter.
·         Agar dapat mengetahui arti pentingnya hubungan antara mahasiswa dan karakter.
·         Agar dapat mengetahui solusi untuk memperbaiki karakter mahasiswa.
·         Agar dapat menjadi bahan referensi bagi mahasiswa sehingga dapat menumbuhkan etika dan tingkah laku yang positif dalam kehidupan sehari-hari

1.4.METODE  PENULISAN


                Metode yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini yaitu metode literature yang mengambil dari beberapa blog dan website yang tersedia di dalam Internet.

BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1.PENGERTIAN MAHASISWA


                                Mahasiswa adalah setiap orang yang secara resmi terdaftar untuk mengikuti pelajaran di perguruan tinggi dengan batas usia 18-30 tahun. Mahasiswa merupakan suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh statusnya karena ikatan dengan perguruan tinggi mahasiswa juga merupakan calon intelektual atau cendekiawan muda dalam suatu lapisan masyarakat yang sering kali syarat dengan berbagai predikat (Sarwono : 1978 ).
                        Mahasiswa menurut Knopfenmacher (dalam Suwono, 1978) adalah merupakan insan-insan calon sarjana yang dalam keteribatannya dengan perguruan tinggi dididik dan di harapkan menjadi calon-calon intelektual.
                        Dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa mahasiswa merupakan sekelompok orang intelektual yang belajar dalam sebuah perguruan tinggi yang memiliki peran penting dalam sebuah masyarakat. Sudahlah dapat dipastikan bahwa mahasiswa merupakan kader-kader penerus bangasa. Mereka merupakan calon pemimpin masa depan kita. Sebagai seorang pemimpin maka sudah dipastikan bahwa mahasiswa harus memiliki sebuah karakter yang baik.

2.2.PENGERTIAN KARAKTER


                                Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter memiliki arti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain.
                        Kamisa, (1997:28) mengungkapkan bahwa karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat watak. Berkarakter artinya mempunyai watak, mempunyai kepribadian.
                        Karakter yang baik merupakan karakter yang positif. Karakter yang dapat membangun diri sendiri dan juga orang lain. Dan selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik terhadap Tuhan, dirinya sendiri, sesamanya, lingkungannya, bangsa dan negara dengan mengoptimalkan potensi yang  yang dimilikinya dengan mempertimbangkan emosi perasaannya.

2.3.PENTINGNYA HUBUNGAN KARAKTER DAN MAHASISWA


                            Seorang mahasiswa haruslah memiliki karakter yang baik untuk menunjang kehidupan masa depannya. Mahasiswa tidak bisa hanya mengandalkan kepintaran atau keberanian saja untuk terjun dalam kehidupan bermasyarakat. Apabila seorang mahasiswa hanya mengandalkan kepintarannya saja maka ketika ia dihadapkan dalam suatu keadaan yang membutuhkan nyali dan mental yang kuat maka kepintaran itu tidak akan ada gunanya, begitu pun sebaliknya.
                        Karakter terpuji yang di miliki mahasiswa nantinya akan menguntungkan baik bagi dirinya sendiri maupun orang-orang disekitanya. Mahasiswa pun akan dapat merubah dunia dengan tangan dan pemikiran mereka. Seperti yang dikatakan oleh Albert Einstein “Banyak orang mengatakan kepintaran yang menjadikan seseorang ilmuwan besar. Mereka keliru, semua itu adalah karena faktor karakter” .
                        Mahasiswa merupakan seorang yang terpelajar oleh karena itu karakter yang wajib dimiliki oleh seorang mahasiswa adalah karakter pembelajar dan kerja keras yang haus akan ilmu-ilmu, dan juga harus memiliki karakter kritis untuk bisa memecahkan segala permasalahan yang di hadapinya dan tak lupa untuk selalu bertanggung jawab atas segala yang telah dilakukannya.
                        Mahasiswa pun merupakan bagian dalam masyarakat. Mahasiswa merupakan representative dari masyarakat yang harus mampu ber empati terhadap kondisi masyarakat, berkontribusi  dalam permasalahan masyarakat, menyuarakan aspirasi masyarakat.


BAB 3
PEMBAHASAN

3.1.CHARACTER BUILDING BAGI MAHASISWA


                                Pendidikan karakter memang sudah diterapkan di berbagai negara maju sejak pendidikan dasar. Sedangkan di Indonesia pendidikan karakter masih di pandang sebagai projek yang belum juga terealisasikan. Karakter memang bisa di bina dan kembangkan, oleh karena itu pentingnya pendidikan karakter dalam suatu universitas bagi mahasiswa sangat dibutuhkan. Pendidikan karakter memberikan pandangan mengenai berbagai jenis nilai kehidupan seperti kejujuran,  kecerdasan kepedulian dan lain-lainnya.
                        Mengapa pendidikan? Karena pendidikan memiliki peran penting dan sentral dalam mengembangkan potensi manusia termasuk pula potensi mental. Dalam pendidikan pula terdapat sosok guru atau dosen yang akan dengan senantiasa membimbing para mahasiswa untuk menemukan dan membentuk suatu karakter baik yang bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri, serta bagi bangsa dan negara.
                        Mahasiswa merupakan asset bangsa, sebagai  intelektual calon pemimpin masa depan. Sehubungan dengan hal tersebut Direktur Jendral Pendidikan Tinggi pada pengarahan Rakornas Bidang Kemahasiswaan Tahun 2011, menegaskan bahwa pembimbingan mahasiswa diprioritaskan pada:
1.      Pengembangan kemampuan intelektual, keseimbangan emosi, dan penghayatan spritual mahasiswa, agar menjadi  warga negara yang bertanggung jawab serta berkontribusi pada daya saing bangsa.
2.      Pengembangan mahasiswa sebagai kekuatan moral dalam mewujudkan masyarakat madani yang demokratis, berkeadilan, dan berbasis pada partisipasi publik.
3.      Peningkatan kualitas sarana dan prasarana untuk mendukung pengembangan dan aktualisasi diri mahasiswa; kognisi, personal,dan sosial.
Dengan adanya pendidikan karakter tersebut mahasiswa menjadi terlatih serta memiliki sifat karakter yang sesuai dengan harapan dan dapat membantu dalam pembangunan bangsa dan negara di masa depan.


BAB 4
PENUTUP

4.1.KESIMPULAN


                                Mahasiswa merupakan orang –orang  intelektual dalam  suatu  perguruan tinggi yang dimana harus memiliki karakter untuk bisa memberikan tauladan di dalam tengah-tengah masyarakat agar dapat memacu untuk memacu pembangunan bangsa dan negara.

4.2.SARAN


                            Jadilah mahasiswa yang berkarakter sehingga engkau dapat merubah dunia. Semoga pulakarya ilmiah ini dapat menjadi suatu  rujukan bagi mahasiswa ataupun dosen sehingga terciptanya generasi-generasi mahasiswa yang berkarakter.


DAFTAR PUSTAKA




               

The Power of Self-Directed



KARYA ILMIAH
“THE POWER OF SELF-DIRECTED”




 













DISUSUN OLEH :

PUTRI AGUSTINI
NIM. 155211057
KELAS 1B






PROGRAM STUDI D-3 ADMINISTRASI BISNIS
JURUSAN ADMINISTRASI NIAGA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
ANGKATAN 2015-2016




 









BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG


                   Belajar merupakan kegiatan untuk memperoleh suatu ilmu. Sebagai kaum terpelajar tentunya kegiatan ini merupakan hal biasa. Tentunya, belajar sebenarnya bisa dimana saja selain di sekolah. Karena banyaknya hal yang bisa di pelajari, maka munculah banyak metode pembelajaran untuk membantu mempermudah dalam proses belajar. Salah satu metode lama yang digunakan adalah metode Teacher-Directed Learning. Metode TDL ini memang memberikan kemudahan dalam mempelajari sesuatu. Karena selain diajarkan langsung oleh para ahli, seorang dosen tentunya selalu memberikan materi yang bermanfaat. Namun, dibalik metode itu terdapat sedikit  celah yang cukup berpengaruh terhadap mahasiswa. Salah satunya yaitu  mahasiswa cenderung akanmanja dan merasa cukup dengan materi yang diberikan oleh dosen. Istilah terus “disuapi” oleh dosen  inilah yang mengakibatkan mahasiswa tidak memiliki hasrat haus akan ilmu, yakni merujuk pada arti belajar yang sesungguhnya yang bisa diperoleh dimana saja.

               Merujuk  pada kasus ini, terdapat metode yang dapat  memberikan solusi yang dapat menutup celah dalam proses belajar ini. Yakni metode Self-Directed Learning yang merupakan proses dimana individu mengambil inisiatif, dengan atau tanpa bantuan orang lain, dan proses dalam self-directed learning ini dilakukan dengan menyadari kebutuhan sendiri dalam belajar, mengatur tujuan pribadi, membuat keputusan pada sumber dan strategi belajar dan menilai hasil (Menurut Knowles).

               Kemampuan belajar mandiri tentunya sangat diperlukan agar mahasiswa menjadi lebih aktif dan juga kreatif di dalam kelas maupun kegiatan di luar kelas. Karena mahasiswa yang memperkaya dirinya dengan sistem self-directed learning  akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi karena memiliki wawasan dan keahlian yang lebih bila dibandingkan dengan mahasiswa yang hanya belajar pasif dengan sistem sebelumnya.

               Namun sistem ini juga pasti memiliki hambatan yakni pengabaian dari mahasiswa yang masih berpikiran bahwa belajar mandiri merupakan hal yang menyusahkan dan membosankan tidak sedikit pun mahasiswa yang menggunakan alasan belum siap. Dari sudut ini lah juga penulis ingin mengetahui kesiapan mahasiswa sebelum melaksanakan sistem self-directed learning yang akan membawa banyak manfaat bagi dirinya sendiri.

1.2.RUMUSAN MASALAH

  
1.      Apa konsepself-directed learning ?
2.      Apa pengertian self-directed learning ?
3.      Apa faktor yang memengaruhi self-directed learning ?
4.      Bagaimana metode dari self-directed learning ?
5.      Hubungan antara self-directed learning dengan usia mahasiswa ?
6.      Apa manfaat dari self-directed learning bagi mahasiswa ?


1.3.TUJUAN PENULISAN


·         Agar dapat mengetahui konsep dari self-directed learning.
·         Agar dapat mengetahui pengertian dari self-directed learning.
·         Agar dapat mengetahui faktor apa saja yang memengaruhi self-directed learning.
·         Agar dapat mengetahui metode yang digunakan dalam self-directed learning
·         Agar dapat mengetahui hubungan antara self-directed learning denga usia mahasiswa.
·         Agar dapat mengetahui manfaat dari self-directed learning.

1.4.METODE  PENULISAN


   Metode yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini yaitu metode literature yang mengambil referensi dari jurnal yang tersedia di dalam Internet.



BAB 2
LANDASAN TEORI


METODE PEMBELAJARAN MANDIRI

            Menurut Stewart, Keagen dan Holmberg (Juhari,1990) belajar mandiri pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh pandangan bahwa setiap individu berhak mendapat kesempatan yang sama dalam pendidikan.

Proses pembelajaran hendaknya diupayakan agar memberikan kebebasan dan kemandirian kepada mahasiswa dalam proses belajarnya. Mahasiswa  bebas secara mandiri untuk menentukan atau memilih materi pembelajaran yang akan dipelajari dan bagaimana cara mempelajarinya

               Untuk dapat menerapkan konsep dari pembelajaran mandiri terdapat beberapa metode yang di kemukakan oleh Sri Suryani dari Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya diantaranya :



1.      Small Group Discussion
Metode ini merupakan metode diskusi dimana di dalam kelas pengajar meminta mahasiswa untuk membuat kelompok-kelompok kecil untuk mendiskusikan bahan yang di berikan. Mahasiswa akan belajar untuk menjadi pendengar yang baik, berpikir bersama, dan mulai menghargai pendapat sudut pandang yang bervariasi dan memecahkannya.

2.      Simulation
Simulasi merupakan gambaran yang membawa situasi yang sebenarnya ke dalam kelas. Misalnya mahasiswa diminta untuk membuat perusahaan fiktif, kemudian mahasiswa harus mengelola perusahaan tersebut dengan adanya pembagian peran yang realistik.

3.      Discovery Learning
Metode ini memfokuskan pada pemanfaatan informasi yang tersedia, baik dari pengajar maupun dari mahasiswa secara mandiri. Misalnya pengajar meminta mahasiswa untuk mencari bahan ajar nya sendiri baik dari internet, buku, maupun koran.

4.      Self Directed Learning
Metode ini berdasarkan inisiatif mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa sendirilah yang merencanakan, menjalankan, dan juga menikmati jadwal pembelajaran secara mandiri.

5.      Cooperative Learning
Metode ini memberikan kasus yang harus dipecahkan oleh mahasiswa.

6.      Collaborative Learning
Metode ini menitikberatkan pada kerja sama antar mahasiswa. Mahasiswa dibebaskan untuk memilih kelompoknya berdasarkan minat, prosedur kerja kelompok, waktu dan tempat kelompok.



7.      Contextual Instruction
Metode ini antaralain pengajar diminta untuk mengaitkan materi pembelajaran dengan situasi nyata.

8.      Project-based Learning
Metode ini merupakan metode sistematis melalui proses pencarian atau penggalihan yang panjang dan terstruktur.

9.      Problem-based Learning
Metode ini belajar dengan memanfaatkan masalah mahasiswa dengan pemanfaatan inquiry untuk dapat memecahkan masalah tersebut.

 

BAB 3
PEMBAHASAN

3.1.PENGERTIAN SELF-DIRECTED LEARNING


                   Menurut Gibbos (2002), self-directed learning adalah peningkatan pengetahuan , keahlian, prestasi, dan mengembangkan diri dimana individu menggunakan banyak metode dalam banyak situasi dalam setiap waktu. Self-directed learningdiperlukan karena dapat memberikan siswa kemampuan untuk mengerjakan tugas, untuk mengkombinasikan perkembangan kemampuan dengan perkembangan karakter dan mempersiapkan siswa untuk mempelajari seluruh kehidupan mereka. Self-directed learningmeliputi bagaimana siswa belajar belajar setiap harinya, bagaimana siswa dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang cepat berubah, dan bagaimana siswa dapat mengambil inisiatif sendiri ketika suatu  kesempatan tidak terjadi atau tidak normal.

               Knowles (dalam Jennings, 1975) menambahkan bahwa self-directed learningadalah sebuah proses dimana sebuah individu mengambil inisiatif, dengan atau tanpa bantuan orang lain, dan proses dalam self-directed learningini dilakukan dengan menyadari kebutuhan sendiri dalam gelajar, mengatur tujuan pribadi, membuat keputusan pada sumber dan strategi belajar dan menilai hasil.

Menurut Long (dalam Bath & Kamath, 2005) self-directed learningadalah proses mental yang biasanya disertai dan didukung dengan aktivitas perilaku yang meliputi identifikasi dan pencarian informasi. Dalam self-directed learning, pelajar secara sengaja menerima tanggung jawab untuk membuat keputusan tentang tujuan dan usaha mereka sehingga mereka sendiri yang menjadi agen perubahan dalam belajar.

               Teori Guglielmino (dalam Shiong,dkk, 1977) mengemukakan bahwa self-directed learningdapat terjadi dalam banyak situasi yang bervariasi, mulai dari ruangan kelas yang berfokus pada guru secara langsung (teacher directed) menjadi belajar dengan perencanaan siswa sendiri (self planned) dan dilakukan sendiri (self conducted). Guglielmino (1977) lebih lanjut menyatakan tentang karakteristik yang dimiliki oleh pelajar, yakni sikap, nilai, kepercayaan, dan kemampuan yang akhirnya menentukan apakah self-directed learningterjadi pada suatu situasi belajar.

               Dari beberapa uraian pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa self-directed learningmerupakan peningkatan level pengetahuan dan keahlian yang mebuahkan prestasi dari diri individu itu sendiri yang memacu timbulnya inisiatif sendiri dengan belajar perencanaan belajar sendiri, dilakukan sendiri. Menyadari hal ini tentunya akan membuat individu akan membuat strategi belajar nya sendiri yang menyenangkan.

Self-directed learningjuga memiliki prinsip yang digunakan yakni:
1.      Pengalaman merupakan sumber belajar yang sangat bermanfaat
2.      Kesiapan belajar merupakan tahap awal menjadi pembelajar mandiri.
3.      Orang dewasa lebih tertarik belajar dari permasalahan daripada dari isi mata kuliah

3.2.FAKTOR YANG MEMENGARUHI SELF-DIRECTED LEARNING

               Menurut laporan penelitian karya Nurhalimah Aruan dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan Universitas Islam Negeri menjelaskan bahwa terdapat 2 faktor yang mempengaruhi self-directed learning antara lain :

1.      Faktor Internal
Faktor Internal merupakan faktor yang timbul dari dalam dirinya sendiri diantaranya :

Jenis Kelamin
Melalui berbagai penelitian membuktikan bahwa wanita lebih unggul dalam hal belajar akademika dari pada laki-laki. Hal ini dikarenakan kemampuan mengerjakan kemampuan verbal perempuan lebih baik daripada laki-laki.

Cara Belajar
Dalyono menyebutkan bahwa cara belajar dapat menentukan keberhasilan pembelajaran seseorang. Untuk mencapai keberhasilan dalam pembelajaran mahasiswa harus memahami cara belajar yang sesui untuk mahasiswa tersebut,dengan self-directed learning maka mahasiswa akan dapat memahami, mengetahui kekurangan dalam cara belajar dan mencari sollusi cara belajar yang tepat.

Mood dan Kesehatan
Mood dan kesehatan dianggap memiliki pengaruh terhadap kesiapan self-directed learning mahasiswa. Tentunya mood yang baik akan membawa mahasiswa enjoy dalam melaksanakan self-directed learningself-directed.

2.      Faktor Eksternal
Faktor Eksternal sering dinamakan sebagai faktor lingkungan. Karena lingkungan sangat berpengaruh terhadap pengembangan kepribadian mahasiswa dan juga keinginan untuk melaksanakan self-directed learning. Faktor eksternal yang memengaruhi self-directed learning diantaranya :

Waktu Belajar
Pengaturan waktu belajar merupakan awal dari pelaksanaan self-directed learning. Karena mahasiswa mengatur waktu belajarnya sendiri secara mandiri.

Tempat Belajar
Tempat belajar dapat menjadi tempat yang nyaman apabila di lengkapi dengan fasilitas yang menunjang proses pembelajaran mandiri.

Motivasi Belajar
Motivasi memiliki nilai yang memuaskan merupakan hal yang akan mendorong munculnya keinginan untuk terjadinya self-directed learning. Selain memperoleh penghargaan atas nilai yang memuaskan, mahasiswa juga dapat mengetahui pentingnya belajar mandiri setelahnya.


3.3.LANGKAH PEMBELAJARAN SELF-DIRECTED LEARNING


Dalam pembelajaran  self-directed learning tentunya terdapat langkah-langkah yang  akan menyukseskan metode ini dengan baik. Menurut Hiemstra (dalam Sunarto, 2008), langkah-langkah pembelajaean SDL terbagi menjadi 6 langkah yaitu:
1.      Preplanning
Preplanning merupakan aktivitas awal proses pembelajaran. Dalam hal ini pembangunan mindset dari dalam diri sendiri mengenai proses pembelajaran yang mandiri sebagai proses pembelajaran yang dapat membantu dalam pengembangan proses belajar.
2.      Ciptakan lingkungan belajar yang positif

Seperti yang di ketahui bahwa lingkungan merupakan salah satu faktor dari self-directed learning. Contoh lingkungan yang positif itu seperti lingkungan yang jauh dari kebisingan ataupun gangguan lain yang akan mengganggu konsentrasi.

3.      Mengembangkan rencana pembelajaran

Rencana pembelajaran tentunya harus dikembangkan dan diperbaharui dengan rencana yang lebih baik lagi dan tentunya efektif.

4.      Mengidentifikasi aktivitas pembelajaran yang sesuai

Aktivitas yang sesuai dengan keinginan yang menunjang proses pembelajaran tentunya akan memberi semangat akan terjadinya pembelajaran mandiri bagi dirinya sendiri.

5.      Melaksanakan kegiatan pembelajaran dan monitoring

6.      Mengevaluasi hasil belajar individu


Adapun metode yang perlu dilakukan agar pembelajaran pada self-directed learningtercapai secara maksimal. Dalam berpikir kita dituntut berpikir mendalam (deep thinking), kritis (critical thinking), dan dapat mengatur waktu dengan efektif dan efisien. Berikut ini penjelasan masing-masing diantaranya :

Deep Learning
Deep Learningadalah pengujian fakta-fakta baru dan ide kritis, dan menyambungkan keduanya ke dalam struktur kognitif serta membuat banyak cabang dari ide-ide tersebut. (Biggs, 1999)

Karakteristik :
1.      Orang Independent dan Self directing. (Beswick, 2006)
2.      Memiliki pengalaman yang sangat luas. (Beswick, 2006)
3.      Lebih termotivasi untuk belajar lewat diri sendiri.  (Beswick, 2006)
4.      Belajarnya sampai akar-akarnya. (Beswick, 2006)
5.      Menghubung-hubungkan dengan berbagai informasi yang di dapat.
6.      Memakai pengetahuan dalam kehidupan nyata.
7.      Mengintegrasikan sesuatu dengan pengetahuan yang sudah didapat.

Critical Thinking
Kemampuan untuk membuat suatu penilaian yang rasional atau beralasan. Tatakrama berpikir yang digunakan seseorang untuk mengukur atau menilai kebenaran sesuatu seperti pernyataan, kisah, argument, penelitian. (Chaerumam, 2009). Critical Thinking adalah mengarahkan dirinya untuk berusaha berpikir untuk mendapatkan alasan pada tingkat tertinggi dari cara berpikir anda orang yang berpikir kritis secara konsisten, akan hidup rasional, beralasan, dan empati. (Elder, 2007)

Mengatur waktu yang baik

Untuk mencapai tujuan pembelajaran pada belajar mandiri, kita perlu mengatur waktu kita. Setiap orang memiliki strategi pengaturan waktunya masing-masing. Agar komitmen itu terpenuhi, pernyataan-pernyataan di bawah dapat digunakan untuk mengawali aktivitas mereka. (Moust et al, 2001)



3.4.MANFAAT SELF DIRECTING-LEARNING


            Menurut Gureckis dan Markant, penelitian dari kognisi menawarkan beberapa penjelasan yang membantu untuk memperhitungkan keuntungan dari self-directed learning. Misalnya, self-directed learningmembantu kita mengoptimalkan pengalaman pendidikan kita, memungkinkan kita untuk memfokuskan upata pada informasi yang berguna yang kita belum memiliki dan mengekspos kita untuk informasi yang kita tidak memiliki akses ke melalui pengamatan pasif. Sifat aktif self-directed learningjuga membantu kita dalam pengkodean informasi dan menyimpannya dari waktu ke waktu.





BAB 4
PENUTUP

4.1.KESIMPULAN


Dalam Pembelajaran mandiri mahasiswa  dituntut aktif dan kooperatif untuk memperoleh informasi. Tugas pengajar/pembimbing hanya sebagai fasilitator yang mendukung , membimbing dan membantu mahasiswa bila mengalami kesulitan. Pembelajaran mandiri khususnya metode self-directed learning memberikan pengaruh besar terhadap meningkatnya proses pembelajaran, karena metode ini di sesuaikan dengan keinginan mahasiswa itu sendiri. Metode ini dirancang, diperbaharui, dijalankan, dan dirasakan oleh dirinya sendiri.

  

4.2.SARAN


                Diharapkan metode pembelajaran ini lebih di terapkan lagi di bidang pendidikan di Indonesia. Tidak hanya diterapkan untuk ruang lingkup mahasiswa, tetapi juga harus diterapkan sejak dini.


DAFTAR PUSTAKA


Suryani,Sri. 2014. “Makalah Pembelajaran Mandiri” . hlm13.
Aruan, Nurhalimah. 2013. “Gambaran Kesiapan Self-Directed Learning pada Mahasiswa Tahap Pendidikan Klinik UIN Syarif Hidayatullah dan faktor-faktor yang berhubungan”. Hlm 66.
Repository.usu.ac.id
http://mediafunia.blogspot.co.id/2013/01/model-pembelajaran-inovatif-self.html?m=1